Rabu, 11 Januari 2012
MALAIKAT SEBAGAI SATU UNSUR RUKUN IMAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Malaikat adalah salah
satu makhluk ciptaan Allah Ta’ala. Keimanan kepada malaikat merupakan salah
satu rukun dari rukun iman, hal ini sebagaimana penjelasan Rosulullah saw dalam
hadits Jibril, dimana malaikat Jibril bertanya kepada beliau tentang iman dan
kemudian dijawab oleh Rasulullah saw:
“Engkau beriman kepada Allah, para
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rosul-rosul-Nya, hari akhir, dan kepada qadar
yang baik dan buruk” (HR. Muslim).
Hal ini
berarti orang yang tidak mengimani malaikat
maka dia telah terjerumus dalam kekufuran karena telah mengingkari salah satu
rukun iman. Oleh karena itulah amat penting bagi kita untuk mengetahui apa dan
bagaimanakah bentuk keimanan yang benar terhadap makhluk-makhluk Allah Ta’ala
yang mulia ini.
Malaikat
adalah makhluk yang hidup di alam ghaib dan senantiasa beribadah kepada Allah
Subhanahu wa ta’ala. Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan rububiyah
dan uluhiyah sedikit pun. Diciptakan dari cahaya dan diberikan
kekuatan untuk mentaati dan melaksanakan perintah dengan sempurna[1].
Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,
خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةِ مِنْ نُوْرٍِوَخُلِقَ
الْجاَنُّ مِنْ ماَرِجٍ مِنْ ناَرٍِوَخُلِقَ آدَمُ مِمَّاوُصِفَ لَكُمْ
”Malaikat diciptakan dari
cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan adam ’Alaihissalam
diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.”
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah
Definisi/Pengertian Malaikat?
2.
Bagaimanakah
Pengertian Beriman Kepada Malaikat?
3.
Apakah
Hikmah Iman Kepada Malaikat Allah SWT?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi/Pengertian Malaikat
Menurut bahasa ملائكة bentuk jama’ dari ملك. yang berarti kekuatan, yang
berasal dari kata mashdar “al-alukah” yang berarti risalah atau misi,
kemudian sang pembawa misi biasanya disebut dengan Ar-Rasul.
Adapun menurut istilah,
ia adalah salah satu jenis makhluk Allah yang Dia ciptakan khusus untuk taat dan
beribadah kepadaNya serta mengerjakan semua tugas-tugas-Nya. Sebagaimana dijelaskan
Allah dalam firman-Nya QS. Al-Anbiya: 19-20,
yang berbunyi:
“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di
langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada
mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) mereka letih. Mereka
selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.”
Dalam
al-Qur’an terdapat kira-kira 75 ayat yang didalamnya disebut kata “malaikat”
dalam berbagai munasabah. Ada yang berkaitan dengan tugasnya, dengan sifatnya
dan hakikatnya. Jumlah malaikat banyak sekali dan hanya Allah yang mahatahu
bilangannya[2].
Seperti yang tersebut dalam surat al-Muddassir ayat 31 yang artinya:
“dan tidak
ada yang mengetahui malaikat Tuhanmu melainkan Dia sendiri”.
Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya (nuur),
berdasarkan hadist Nabi Muhammad saw yang telah
disebutkan diatas yang artinya, “Malaikat telah diciptakan dari cahaya.”
1.
Wujud dan Sifat
Malaikat
Malaikat adalah makhluk gaib diciptakan oleh Allah Ta’ala dari cahaya,
walaupun mereka memiliki keluarbiasaan yang sangat hebat mereka tidak berhak
untuk diibadahi. Hal tersebut dapat kita ketahui berdasarkan hadits Rasulullah
dari Aisyah r.a, Malaikat itu diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari
percikan api, sementara Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan
kepadamu. (HR. Muslim). Mereka juga memiliki sayap, Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang
menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing
dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu. (QS. Faathir: 1)
Malaikat adalah makhluk Allah yang besar, contohnya
adalah malaikat yang memikul ‘Arsy [3].
Sebagaimana dalam QS. At-Tahrim ayat 6. Selain itu malaikat tidak membutuhkan
makan dan minum seperti kisah nabi Ibrahim dengan tamu-tamu malaikatnya yang
mengabarkan akan kelahiran putranya, Ishaq As[4].
Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam surat Adz-Dzariyat ayat 24-28.
Malaikat tidak pernah lelah dalam
melaksanakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka. Sebagai makhluk ghaib,
wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dirasakan oleh
manusia,
dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca indera,
kecuali jika malaikat menampakkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa
manusia. Ada pengecualian terhadap kisah Muhammad yang pernah bertemu dengan
Jibril dengan menampakkan wujud aslinya, penampakkan yang ditunjukkan kepada
Muhammad ini sebanyak 2 kali, yaitu pada saat menerima wahyu dan Isra dan
Mi'raj. Beberapa nabi dan rasul telah di
tampakkan wujud malaikat yang berubah menjadi manusia, seperti dalam kisah Ibrahim, Luth, Maryam, Muhammad dan
lainnya.
Berbeda dengan ajaran Kristen
dan Yahudi,
Islam tidak mengenal istilah "Malaikat Yang Terjatuh" (Fallen Angel).
Azazil
yang kemudian mendapatkan julukan Iblis, adalah nenek moyang Jin, seperti Adam nenek moyang Manusia.
Jin adalah makhluk yang dicipta oleh Allah dari 'api yang tidak berasap',
sedang malaikat dicipta dari cahaya.
Sifat-sifat
malaikat yang diyakini oleh umat Islam adalah sebagai berikut:
- Selalu
bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti.
- Suci
dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti tidak kawin dan tidak beranak,[5] hawa
nafsu, lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dan lainnya.
- Selalu
takut dan taat kepada Allah.
- Tidak
pernah maksiat dan selalu mengamalkan apa saja yang diperintahkan-Nya.
- Mempunyai
sifat malu.
- Bisa
terganggu dengan bau tidak sedap, anjing dan patung.
- Tidak
makan dan minum.
- Mampu
mengubah wujudnya.
- Memiliki
kekuatan dan kecepatan cahaya.
Sifat malaikat yang paling utama adalah
mereka tidak pernah mendurhakai apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mengerjakan setiap yang Allah titahkan kepada mereka. Mereka
diciptakan oleh Allah khusus untuk
beribadah kepada-Nya. Allah
berfirman, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Alloh
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan”. (At Tahrim: 6)
Bentuk para malaikat terkadang berubah dari aslinya atas izin Allah,
sebagaimana Jibril datang pada Rosulullah dengan menyerupai laki-laki yang
sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya. Nabi pernah mengabarkan
bahwa Jibril memiliki enam ratus sayap yang menutupi seluruh ufuk semesta alam.
Tentang
kapan malaikat diciptakan oleh Allah SWT, tidak ada penjelasan. Tapi yang
pasti, malaikat diciptakan lebih dahulu dari manusia pertama (Adam AS)
sebagimana yang disebutkan oleh Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 30:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
2.
Nama dan Tugas Malaikat
Malaikat adalah hamba
Allah yang dimuliakan dan utusan Allah yang dipercaya. Allah menciptakan mereka
khusus untuk beribadah kepada-Nya. Mereka bukanlah putera-puteri Allah dan
bukan pula putera-puteri selain Allah. Mereka membawa risalah Tuhannya, dan
menunaikan tugas masing-masing di alam ini. Mereka juga bermacam-macam, dan
masing-masing mempunyai tugas-tugas khusus. Di antara mereka adalah:
1. Malaikat yang ditugaskan menyampaikan (membawa) wahyu Allah kepada para
rasul-Nya yaitu ar-Ruh al-Amin/Jibril/Ruhul Qudus[6]. Allah berfirman:
“Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam
hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang
memberi peringatan.” (Asy-Syuara: 193-194).
Allah menyifati Jibril dalam tugasnya menyampaikan al-Qur’an
dengan sifat-sifat yang penuh pujian dan sanjungan,
“Sesungguhnya
al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia
(Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi
Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi
dipercaya.” (At-Takwir:
19-21).
2. Malaikat yang diserahi
urusan hujan dan pembagiannya menurut kehendak Allah. Hal ini ditunjukkan oleh
hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Abu Hurairah dan Nabi s.a.w. beliau
bersabda:
“Tatkala
seorang laki-laki bërada di tanah lapang (gurun) dia mendengar suara di awan,
‘Siramilah kebun fulan,’ maka menjauhlah awan tersebut kemudian menumpahkan air
di suatu tanah yang berbatu hitam, maka saluran air di situ dan saluransaluran
yang ada telah memuat air seluruhnya. (HR. Muslim)
Hal
ini menunjukkan bahwa curah hujan
yang dilakukan malaikat sesuai dengan kehendak Allah s.w.t.
3. Malaikat yang diberikan terompet, yaitu Israfil. Ia meniupnya sesuai dengan perintah Allah dengan
tiga kali tiupan: tiupan faza’ (ketakutan), tiupan sha’aq (kematian) dan tiupan
ba’ts (kebangkitan). Begitulah yang disebut Ibnu Jarir dan mufassir
lainnya ketika menafsirkan firman Allah:
“di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan
nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anam:
73).
Dan firman Allah yang artinya:
“kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan
mereka itu semuanya.” (Al-Kahfi: 99),
Dan ayat-ayat lainnya yang ada sebutan, “an-nafkhu fishshur”
(meniup terompet).
4. Malaikat yang ditugasi mencabut ruh, yakni malaikat maut dan
rekan-rekannya. Tentang tugas malaikat ini Allah berfirman:
“Katakanlah, “Malaikat
maut yang ditugaskan untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian
hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (As-Sajdah: 11).
Dan juga dalam
firman Allah yang artinya:
“sehingga
apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh
malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan
kewajiban.” (AlAnam:
61).
5. Para malaikat penjaga syurga. Allah mengabarkan mereka ketika
menjelaskan perjalanan orang-orang bertakwa dalam firman-Nya,
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke
dalam syurga berombong-rombong (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga
itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka
penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu!
Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal didalamnya.” (Az-Zumar:73).
6. Para malaikat penjaga Neraka Jahanam, mereka itu adalah Zabaniyah.
Para pemimpinnya ada 19 dan pemukanya adalah Malik. Hal ini ditunjukkan oleh
firman Allah ketika menyifati Neraka Saqar,
“Tahukah kamu apakah (Neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak
meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit
manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami
jadikan penjaga neraka itu melainkan malaikat.” (Al-Muddatstsir: 27-30).
Dan Allah bercerita tentang penduduk neraka,
“Mereka berseru, ‘Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami
saja.’ Dia menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)’.”
(Az-Zukhruf: 77).
7. Para malaikat yang ditugaskan menjaga seorang hamba dalam segala
urusan-nya. Mereka adalah Mu’aqqibat, sebagaimana yang diberitakan Allah dalam firman-Nya:
“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang
merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan uca pan itu, dan
siapa yang bersembunyi di malam han dan yang berjalan (menampakkan din) di
siang han. Bagi manusia ada malaikatmalaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.”
(Ar-Rad:10-11).
Dan
firman Allah, “Dan Dialah yang
mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu
malaikat-malaikat penjaga...” (A1-An’am: 61).
8. Para malaikat yang ditugaskan mengawasi amal seorang hamba, amal
yang baik mahupun amal yang buruk. Mereka adalah al-Kiram al-Katibun (para
pencatat yang mulia). Mereka masuk dalam golongan Hafazhah (para penjaga),
sebagaimana firman Allah:
“Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahsia
dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan
(malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (Az-Zukhruf: 80).
“(Yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya,
seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu
ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang
selalu hadir.” (Qaf: 17-18).
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat)
yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat
(pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar:
10-12).
Dalam kitabnya, Imam Syafi’ie menambahkan
dengan malaikat yang ditugaskan meniupkan janin dalam rahim, yaitu ketika janin
telah mencapai usia 4 bulan didalam rahim, maka Allah mengutus malaikat
untuk menulis rizki, amal, ajal, celaka
serta bahagianya, lalu meniupkan ruh padanya[7].
Sedangkan
dalam bukunya, ahmad Daudi menyatakan bahwa ada juga para malaikat yang
bertugas memohon ampun pada Allah bagi orang yang beriman dan berdoa bagi kebahagiaan mereka didunia dan akhirat. [8]
B.
Pengertian Beriman Kepada Malaikat
Iman kepada malaikat adalah bagian dari Rukun Iman.
Iman kepada malaikat maksudnya adalah meyakini adanya malaikat, walaupun kita
tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan
mereka dari cahaya. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka
tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya
Allah saja yang mengetahui jumlahnya.
Beriman kepada malaikat
mengandung empat unsur[9]:
1.
Mengimani wujud mereka,
bahwa mereka benar-benar ada bukan hanya khayalan, halusinasi, imajinasi, tokoh
fiksi, atau dongeng belaka. Dan mereka jumlahnya sangat banyak, dan tidak ada
yang bisa menghitungnya kecuali Allah. Seperti dalam kisah mi’raj-nya Nabi
Muhammad Shallahu’alaihi wa sallam, bahwa ketika itu Nabi Shallahu’alaihi wa
sallam diangkat ke Baitul Ma’mur di langit, tempat para malaikat
shalat setiap hari, jumlah mereka tidak kurang dari 70.000 malaikat. Setiap
selesai shalat mereka keluar dan tidak kembali lagi.
2.
Mengimani nama-nama
malaikat yang kita kenali, misalnya Jibril, Mikail, Israfil, Maut.
Adapun yang tidak diketahui namanya, kita mengimani keberadaan mereka secara
global. Dan penamaan ini harus sesuai dengan dalil dari al-Quran dan Hadist
Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam yang shahih.
3.
Mengimani sifat-sifat
malaikat yang kita kenali, misalnya:
·
Memiliki sayap, ada yang
dua, tiga atau empat. Dan juga khususnya Malaikat Jibril, sebagaimana yang
pernah dilihat oleh Nabi Shallahu’alaihi wa sallam yang mempunyai 600 sayap
yang menutupi seluruh ufuk semesta alam.
Allah
berfirman,
”Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan
bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai
macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga
dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang
dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
·
Malaikat bisa menjelma
menjadi seorang laki-laki, seperti saat diutus oleh Allah kepada Maryam, Nabi
Ibrahim, Nabi Luth. Juga saat diutusnya Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad
Shallahu’alaihi wa sallam ketika beliau berkumpul dengan para sahabat dalam
satu mejelis untuk mengajarkan agama kepada para sahabat Nabi Shallahu’alaihi
wa sallam.
4.
Mengimani tugas-tugas yang
diperintahkan Allah kepada mereka yang sudah kita ketahui, seperti
membaca tasbih dan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla siang dan malam tanpa
merasa lelah.
Dalil-dalil yang
mewajibkan beriman kepada malaikat:
1. Firman Allah dalam surat
al-Baqarah,
“Rasul telah beriman kepada
al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dan Tuhannya, demikian pula orang-orang
yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya,
kitabkitabNya dan rasul-rasulNya...” (Al-Baqarah: 285).
Allah menjadikan iman ini sebagai akidah seorang mukmin.
2. Firman Allah pada ayat
lainnya,
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan
barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah
beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab- kitab, dan
nabi-nabi...” (Al-Baqarah:
177).
Allah
mewajibkan percaya kepada hal-hal tersebut di atas dan mengafirkan orang-orang
yang mengingkarinya. Allah berfirman, dan barangsiapa kafir kepada Allah,
malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan Han Kemudian, maka Sesungguhnya
orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 136).
3. Sabda Rasulullah ketika
menjawab pertanyaan Jibril tentang iman,
“Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
para rasul-Nya, dan Hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir, yang baik
mahu pun yang buruk.” (HR. Muslim, 1/37 dan al-Bukhari, 1/19-20).
Rasulullah
menjadikan iman itu adalah dengan mempercayai semua yang disebut tadi.
Sedangkan iman kepada malaikat adalah sebagian dari iman tersebut. Keberadaan
malaikat ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang pasti (qath‘iy), sehingga
mengingkarinya adalah kufur berdasarkan ijma’ umat Islam, karena ingkar kepada
mereka bererti menyalahi kebenaran al-Quran dan as-Sunnah.
Fungsi iman kepada Malaikat Allah :
1. Selalu melakukan perbuatan baik dan
merasa najis serta anti melakukan perbuatan buruk karena dirinya selalu diawasi
oleh malaikat.
2. Berupaya masuk ke dalam surga yang
dijaga oleh malaikat Ridwan dengan bertakwa dan beriman kepada Allah SWT serta
berlomba-lomba mendapatkan Lailatul Qodar.
3. Meningkatkan keikhlasan, keimanan dan
kedisiplinan kita untuk mengikuti / meniru sifat dan perbuatan malaikat.
4. Selalu berfikir dan berhati-hati dalam melaksanakan setiap perbuatan
karena tiap perbuatan baik yang baik maupun yang buruk akan
dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Perbedaan Malaikat dengan Jin, Syetan dan
Iblis
Malaikat terbuat dari cahaya atau nur sedangkan jin berasal
dari api atau nar. Malaikat selalu tunduk dan taat kepada Allah sedangkan jin
ada yang muslim dan ada yang kafir. Yang kafir adalah syetan dan iblis yang
akan terus menggona manusia hingga hari kiamat agar bisa menemani mereka di
neraka.
Malaikat tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana yang dipunyai
jin. Jin yang jahat akan selalu senantiasa menentang dan menjalankan apa yang
dilarang oleh Tuhan Allah SWT. Malaikat adalah makhluk yang baik dan tidak akan
mencelakakan manusia selama berbuat kebajikan, sedangkan syetan dan iblik akan
selalu mencelakakan manusia hingga hari akhir.
Terdapat kesalahan-kesalahan yang merusak keimanan kepada
malaikat. Bahkan bisa jadi kesalahan itu membawa kepada kekufuran – na’udzu
billahi min dzalik -. Oleh karena itulah, kita berlindung kepada Allah
agar tidak terjatuh dalam kesalahan tersebut. Beberapa kesalahan yang ada
adalah:
- Mengatakan
bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Sungguh inilah yang juga
dikatakan kaum musyrikin. Maha Suci Allah dari anggapan ini. Hal ini
terdapat dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan mereka menetapkan bagi
Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri
apa yang mereka sukai.” (QS. An-Nahl [16]: 57)
- Beribadah
kepada para malaikat. Padahal jika mereka mau merenungi ayat-ayat
Al-Qur’an, akan jelas ditemukan bahwa para malaikat itu sendiri hanya
menyembah kepada Allah semata. Walaupun mereka diberi berbagai kelebihan
oleh Allah, mereka tetaplah makhluk Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya
malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan
menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah
mereka bersujud.” (QS. Al A’raaf [7]: 206)
- Menamakan
para malaikat dengan nama-nama yang tidak ditetapkan oleh Allah ta’ala
dalam Al-Qur’an dan tidak disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam. Seperti misalnya menamakan malaikat maut dengan nama
Izroil, malaikat pencatat amal dengan Roqib dan ‘Atid.
4. Mengatakan bahwa malaikat-malaikat adalah pembantu Allah. Maha
Suci Allah dari perkataan seperti ini. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dia-lah yang menciptakan para malaikat tersebut. Dan segala makhluk yang
diciptakan Allah adalah membutuhkan Allah. Malaikat-malaikat tersebut pun
melaksanakan tugas-tugasnya karena diperintah oleh Allah dan diberi kemampuan
untuk melaksanakannya.
Kesalahan anggapan
ini adalah termasuk dari kesalahan pemahaman karena menyamakan Allah dengan
mahluk, dalam hal ini adalah menyamakan Allah dengan kondisi para raja yang
membutuhkan pembantu-pembantu untuk melaksanakan pekerjaannya. Dan ini termasuk
dalam hakikat kesyirikan.
C. Hikmah
Beriman Kepada Allah
Beriman kepada para malaikat memiliki pengaruh yang agung
dalam kehidupan setiap mukmin, di antaranya dapat kita sebutkan:
- Mengetahui
keagungan, kekuatan serta kesempurnaan kekuasaan-Nya. Sebab keagungan
(sesuatu) yang diciptakan (makhluk) menunjukkan keagungan yang menciptakan
(al-Khaliq). Dengan demikian akan menambah pengagungan dan pemuliaan
seorang mukmin kepada Allah, di mana Allah menciptakan para malaikat dari
cahaya dan diberiNya sayap-sayap.
- Senantiasa
istiqomah (meneguhkan pendirian) dalam menaati Allah ta’ala. Karena
barangsiapa beriman bahwa para malaikat itu mencatat semua amal
perbuatannya, maka ini menjadikannya semakin takut kepada Allah, sehingga
ia tidak akan berbuat maksiat kepada-Nya, baik secara terang-terangan maupun
secara sembunyi-sembunyi.
- Bersabar
dalam menaati Allah serta merasakan ketenangan dan kedamaian. Karena
sebagai seorang mukmin ia yakin bahwa bersamanya dalam alam yang luas ini
ada ribuan malaikat yang menaati Allah dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya.
- Bersyukur
kepada Allah atas perlindungan-Nya kepada anak Adam, dimana ia menjadikan
sebagian dari para malaikat sebagai penjaga mereka.
- Waspada
bahwa dunia ini adalah fana dan tidak kekal, yakni ketika ia ingat
Malaikat Maut yang suatu ketika akan diperintahkan untuk mencabut
nyawanya. Karena itu, ia akan semakin rajin mempersiapkan diri menghadapi
hari Akhir dengan beriman dan beramal shalih.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Allah mewakilkan kepada malaikat urusan
semua makhluk termasuk urusan manusia. Jadi mereka mempunyai hubungan yang erat
dengan manusia semenjak ia berupa sperma. Hubungan ini disebutkan Imam Ibnul
Qayyim dalam kitabnya “Ighatsatul Lahfan’, beliau berkata, Mereka diserahi
urusan penciptaan manusia dan satu fasa ke fasa yang lain, pembentukannya,
penjagaannya dalam tiga lapis kegelapan, penulisan rezeki, amal, ajal, nasib
celaka dan bahagianya, menyertainya dalam segala urusan-nya, penghitungan
ucapan dan perbuatannya, penjagaannya dalam hidupnya, pencabutan ruhnya ketika
meninggal, pembawa ruhnya ketika meninggal, pembawa ruhnya ketika untuk diperlihatkan
kepada Penciptanya.
Merekalah yang ditugasi mengurus adzab
dan nikmat dalam alam barzakh dan sesudah kebangkitan. Mereka yang ditugasi
membuat alat-alat kenikmatan dan adzab, Mereka yang meneguhkan (iman) bagi
hamba yang mukmin dengan izin Allah, yang mengajarkan baginya apa yang
bermanfaat, yang berperang membelanya. Merekalah para walinya (penolongnya) di
dunia dan di akhirat. Mereka yang menjanjikannya kebaikan dan mengajak kepadanya,
melarang kejahatan serta memperingatkannya. Maka mereka adalah para wali dan
ansharnya, penjaga dan mu ‘allim (pengajar)nya, penasihat yang berdoa dan
beristighfar untuknya, yang selalu bershalawat atasnya Selama ia mengajarkan
kebaikan untuk manusia. Mereka yang memberi khabar gembira dengan karamah Allah
ketika tidur, mati dan ketika dibangkitkan.
Merekalah yang membuatnya zuhud di dunia
dan menjadikannya cinta kepada akhiratnya. Mereka yang mengingatkan ketika ia
lupa, yang menggiatkannya ketika ia malas, dan menenangkannya ketika ia panik.
Mereka yang mengupayakan kebaikan dunia dan akhiratnya. Merekalah para utusan
Allah dalam mencipta dan mengurusnya. Mereka adalah safir (duta) penghubung
antara Allah dan hamba-Nya. Turun dengan perintah dari sisi-Nya di seluruh
penjuru alam, dan naik kepada-Nya dengan perintah (membawa urusan).”
B.
Penutup
Demikianlah sedikit ilmu yang dapat kami sampaikan.
Semoga kita dapat menemukan jawaban atas pertanyaan tentang malaikat yang
selama ini mungkin menjadi ganjalan dalam benak kita. Semoga setelah membaca dan merenungkan tentang hakikat
malaikat, iman kita menjadi bertambah dan supaya lebih tertanam dalam hati
kita, bahwa manusia tidak akan dibiarkan saja tanpa pertanggungjawaban, karena
ada malaikat yang selalu mencatat amal perbuatan kita yang kelak kita akan
ditanyai tentangnya…
Wallahu
a’lam.
Daftar
Pustaka
Daudy,
Ahmad, Kuliah Aqidah Islam, cet, 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1997.
Ilyas, Yunahar, Kuliah Aqidah
Islam,Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamatan Islam (LPII)
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 1992.
Yazid Bin Abdul Qadir Jawas, Syarah ‘Aqidah
Ahlus Sunnah Wal Jamaah, cet. 7, Bogor: Pustaka Imam Syafi’ie, 2009.
[1] Yazid Bin Abdul Qadir
Jawas, Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, cet. 7, Bogor: Pustaka
Imam Syafi’ie, 2009, hal. 223
[5], Dr. Ahmad Daudi, Op. Cit, hal. 96
[9] Yazid bin Bdul Qadir Jawas, Op. Cit, hal. 226
Dalam lingkungan hukum adat, tanah memiliki
fungsi yang sangat fundamental, tidak semata-mata sebagai benda mati yang dapat
dibentuk sedemikian rupa melainkan juga sebagai tempay untuk mempertahankan
hidup atau modal esensial yang mengikat masyarakat dan anggota-anggotanya.
Hukum tanah saat ini telah mengalami unifikasi
melalui UUPA. Setelah berlakunya UUPA, syarat-syarat mengenai timbulnya atau
terjadinya hak milik atas tanah menurut hukum adat telah disubordinasikan
melalui peraturan pemerintah, seperti disebutkan pasal 22 ayat (1) UUPA bahwa:
Terjadinya hak milik menurut hukum adat diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
Dengan demikian, pada kenyataannya terjadinya
hak milik atas tanah tersebut bukan lagi menurut hukum adat melainkan menurut
peraturan pemerintah. Ketentuan lainnya yang secara tegas mengatur hak milik
atas tanah menurut hukum adat disebutkan dalam pasal 56 UUPA yang menyatakan
bahwa:
Selama undang-undang mengenai hak milik belum
terbentuk, maka yang berlaku adalah ketentuan-ketentuan hukum adat setempat dan
peraturan-peraturan lainnya mengenai hak-hak atas tanah sebagaimana atau mirip
dengan yang dimaksud dalam pasal 20 sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa
dan ketentuan-ketentuan undang-undang ini.
Selain dari beberapa pasal di atas, UUPA juga
memuat ketentuan-ketentaun konversi yang di dalamnya mengatur pula mengenai
konversi hak-hak milik atas tanah yang berasal dari hak gogolan pekulen atau
sanggan yang bersifat tetap, dikonversikan menjadi hak milik sebagaimana diatur
dalam pasal 20 ayat (1) UUPA. Konversi tersebut memiliki implikasi bahwa orang
yang menguasai hak milik atas suatu tanah setelah ia menyelesaikan urusan
sertifikasi tanah mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan orang lain yang
juga menguasai hak milik atas tanahnya masing-masing, yang tidak berdasarkan
hukum adat. Seperti yang tercantum dalam Putusan MA No. 975K/Pdt/1988 tanggal
28 April 1992 menyatakan bahwa tanah warisan yang berasal dari tanah pekulen
setelah disertifikasi tanah tersebut menjadi hak milik dari orang yang namanya
tercantum dalam sertifikat hak milik (SHM) yang bersangkutan. Dengan demikian,
si pemilik SHM dapat mewariskannya kepada para ahli warisnya. Jika tanah
tersebut pada awalnya merupakan warisan dari orang yang namanya tidak
dicantumkan dalam SHM, berdasarkan UU, si pemilik asal (pewaris) tidak disebut
sebagai pemilik, walaupun berdasarkan kenyataan ia adalah pemilik sebenarnya.[4]
Dalam hal asas-asas hukum tanah, UUPA juga
mentransformasikan asas hukum tanah adat ke dalam sistem hukum yang tertulis.
Salah satu contohnya adalah tentang asas pemisahan horisontal, terpisahnya
tanah dengan bagian-bagian di atasnya. Dengan demikian, dapat terjadi adanya
perbedaan status kepemilikan antara tanah dengan benda-benda di atasnya,
sehingga seseorang berhak atas tanahnya sedangkan orang lain berhak atas
bangunan yang ada di atas tanah yang bersangkutan (numpang karang atau numpang
bumi).
Tentang asas pemisahan horisontal ini diakui
oleh MA melalui putusannya No. 574 K/Pdt/1992 tanggal 14 Mei 1994. Dalam bagian
pertimbangannya, MA menyebutkan bahwa menurut hukum dapat dibenarkan tinggalnya
seseorang dalam suatu bangunan rumah yang ada di atas tanah orang lain secara
sah, walaupun kemudian tanah tersebut dijual oleh pemiliknya kepada orang lain.
Dan si pembeli tanah yang bersangkutan (pemilik tanah kedua) tidak mempunyai
kewenangan untuk mengusir orang yang telah menempati rumah yang berada di atas
tanah tersebut.
Daftar Bacaan
Ø
Effendy, H.A.M. 1990. Pokok-pokok Hukum
Adat. Cetakan ke III. Semarang: Duta Grafika
Ø
Soemadiningrat, H.R.Otje Salman. 2002. Rekonseptualisasi
Hukum Adat Kontemporer; Telaah Kritis Terhadap Hukum Adat sebagai Hukum yang
Hidup dalam Masyarakat. Bandung: PT.Alumni
Ø
Sudiyat, Iman. 1981. Hukum Adat, Sketsa
Asas. Yogyakarta: Liberty
Ø
Vergouwen, J.C. 2004. Masyarakat dan Hukum
Adat Batak Toba. Yogyakarta: PT.LkiS Pelangi Aksara
[1]
H.A.M. Effendy, SH, 1990, Pokok-pokok Hukum Adat,
Cetakan ke III, Semarang: Duta Grafika, hlm. 1.
[4] Prof.Dr.H.R.Otje Salman Soemadiningrat,SH, 2002, Rekonseptualisasi
Hukum Adat Kontemporer; Telaah Kritis Terhadap Hukum Adat sebagai Hukum yang
Hidup dalam Masyarakat, Bandung: P.T.Alumni, hlm. 166.
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar