Tanah yang dijanjikan (the promised land) adalah isu utama yang
digunakan sebagai dalih dalam menggalang gerakan Zionisme dan menegakkan
Negara Yahudi (the jewish state) yang digagas oleh Theodore Hertzl. Isu
inilah yang kemudian dijadikan alasan untuk mengagresi tanah Palestina,
mengusir warganya, dan melakukan pembantaian demi pembantaian hingga
detik ini.
Kebohongan semacam inilah yang seringkali dijadikan alat oleh Israel
untuk memengaruhi negara-negara di dunia, agar mereka mau memaklumi aksi
Israel tersebut, sebagaimana kebohongan tragedi holocaust yang penuh
manipulasi itu.
Sejarah “tanah yang dijanjikan” dalam kacamata Islam sebenarnya
sebagai berikut. Allah SWT berkehendak melengkapi rahmat-Nya bagi Bani
Israel, karena itu Musa as berkata kepada mereka: “Wahai kaumku,
masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu.”
(QS. al-Maidah: 21). Ketika Bani Israel mendengar ini, mereka enggan
karena takut terhadap para thaghut (penguasa zalim) yang tinggal di
sana.
Allah ingin agar Bani Israel membebaskan Tanah Suci, agar penduduknya
hanya menyembah-Nya. Tetapi, Bani Israel lebih menyukai hidup enak.
Mereka ingin memperoleh segala sesuatu melalui mukjizat. Sehingga,
mereka pun berkata kepada Musa: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu
ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak
akan memasukinya sebelum mereka keluar dari sana. Jika mereka telah ke
luar dari situ, pasti kami akan memasukinya.” (QS. al-Maidah: 22).
Dengan demikian, mereka sebenarnya ingin berkata pada Musa, “Pergi dan
usirlah orang-orang itu dari tanah suci, supaya kami bisa masuk ke
sana!”
Hanya dua orang—dari ribuan orang Bani Israel—yang bersedia bangkit
dan berkata: “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota) itu, maka
bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah
hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
(QS. al-Maidah: 23).
Namun mayoritas Bani Israel—yang pengecut itu—berkata pada Musa: “Hai
Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selamanya, selagi mereka
ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan
berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini
saja.” (QS. al-Maidah: 24). Alias, mereka ingin berkata kepada Musa,
“Jika kau menginginkan perang, maka kau dan Tuhanmu saja yang pergi!”
Lagi-lagi Bani Israel mengingkari utusan Allah. Musa menjadi sedih,
sehingga ia pun menengadah ke langit dan berkata: “Wahai Tuhanku, aku
tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu,
pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” (QS.
al-Maidah: 25). Karenanya, Allah pun murka kepada Bani Israel, karena
telah menyakiti dan tak mematuhi perintah Musa as.
Akibatnya, Allah mengazab Bani Israel dalam bentuk keterasingan
mereka di alam liar gurun pasir Sinai, selama empat puluh tahun. Dengan
demikian, jelaslah bahwa isu “tanah yang dijanjikan” tersebut telah
selesai dan berakhir, dikarenakan penolakan dan pengingkaran kaum Yahudi
sendiri.
Kenyataan historis Islam tersebut semakin dipertegas oleh pernyataan
kelompok Yahudi yang tergabung dalam oraganisasi Naturei Karta, sebuah
organisasi yang menentang keras gerakan Zionisme. Mereka menyebut diri
mereka sebagai kelompok Yahudi Judaisme, untuk membedakan dengan
kelompok Yahudi Zionisme. Mereka menyatakan:
“Judaisme merupakan keyakinan yang berasaskan pada wahyu di Sinai.
Keyakinan ini meyakini bahwa pengasingan adalah hukuman bagi kaum Yahudi
dikarenakan dosa-dosa mereka. Sedangkan Zionisme telah lebih dari
seabad menolak wahyu di Sinai. Keyakinan ini menyatakan bahwa
pengasingan kaum Yahudi dapat diakhiri melalui agresi militer. Zionisme
telah merampas hak warga Palestina, mengabaikan tuntutan mereka, serta
menjadikan mereka sebagai target penganiayaan, penyiksaan, dan
pembunuhan. Kaum Yahudi Taurat di dunia terkejut dan terlukai dengan
dogma irreligius dan kejam ini. Ribuan ulama dan pendeta Taurat telah
mengutuk gerakan tersebut. Mereka tahu bahwa hubungan baik kaum Yahudi
dan Muslimin sebelumnya di Tanah Suci (Palestina) telah terlukai oleh
gerakan Zionisme. Negara Israel, yang disangsikan itu, berdiri menentang
Taurat. Karena itu, kami Naturei Karta berada di garis depan dalam
perang melawan Zionisme, selama lebih dari seabad. Kehadiran kami adalah
untuk menolak kebohongan dan kejahatan Zionisme, yang mengatasnamakan
orang-orang Yahudi. Berdasarkan keyakinan Yahudi dan hukum Taurat, kaum
Yahudi terlarang untuk memiliki negara sendiri, sementara menunggu
datangnya sang Mesiah.”
Roger Garaudy, seorang ilmuwan Perancis, menyatakan bahwa isu “tanah
yang dijanjikan” versi Israel tersebut merupakan mitos. Sehingga, yang
sebenarnya terjadi adalah “tanah yang ditaklukkan” (the conquered land),
bukan “tanah yang dijanjikan” (the promised land). Ia memberikan
bukti-bukti konkrit yang mendukung pernyataannya tersebut dengan mengacu
pada literatur-literatur Yahudi dan Nasrani.
Dengan demikian, isu “tanah yang dijanjikan” yang digunakan oleh
Israel sebagai dalih pendudukan atas Palestina sebenarnya bukan
merupakan ajaran Taurat, bukan pula ajaran Injil.
Kenyataannya, kaum Zionis memang tidak berpedoman pada Taurat. Mereka
lebih berpegang pada kitab suci lain yang bernama Talmud, atau yang
kemudian dikenal juga dengan sebutan Shulhan Arukh, yaitu kitab yang
ditulis oleh seorang Rabi Yahudi bernama Joseph Ben Ephraim Caro pada
abad ke-16 M.
Kitab Talmud ini mengajarkan pandangan-pandangan yang buruk, di antaranya:
1. Kaum Yahudi adalah kaum pilihan Tuhan. Selain kaum Yahudi adalah binatang dan pagan (penyembah berhala).
2. Kaum Yahudi harus selalu bekerja keras untuk meruntuhkan bangsa dan kaum lainnya, agar kaum Yahudi dapat menguasai dunia.
3. Kaum Yahudi diizinkan untuk mencuri harta benda selain kaum Yahudi.
4. Kaum Yahudi diizinkan untuk berbuat curang kepada selain kaum Yahudi,
menjalankan riba pada mereka, dan memaksa mereka untuk menjual semua
miliknya kepada kaum Yahudi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar